My activities for 1 semester

On this blog I will report on my activities in English for 1 semester. in the first semester I have learned about “Tenses” (simple present, simple past, present perfect), playing games together to hone English vocabulary, also when at the end of the semester I was assigned by the teacher to make essays about my experiences at school, in this essay we could share about bitter or happy experiences while at school or we could also give some tips for enjoying boring school activities. if I myself make an essay about how I give tips so as not to get bored with boring school activities.

Important things that are conveyed in my essay are important tips that can be used by students who are bored with activities at school, maybe tips from me can eliminate boredom during activities in school.

After making an essay, I was assigned again by the teacher to make a video log that was important with my essay, of course. because my essay is related to tips, maybe in this video log I can provide important tips so that those who watch my video log can know the message or tips to be delivered.

Maybe you can see the results of the video log that I made, happy watching :))

 

Advertisements

Rancakalong Story

We traveled to the traditional village to do an expedition on Tuesday, October 23 until 26 October, 2018. Our arrival there for our stock home, will bring some results of the questionnaire,  results of interviews as well and new experiences that we get to be used as scientific papers.

And on this blog I will share interesting experiences when me and my friends live there for 4 days and 3 nights.I think the most interesting moment there was on the third day when my last night was there. We were introduced to an important ceremony whose ceremony was celebrated by the musical instrument Tarawangsa itself, there are various kinds of musical instruments used by Tarawangsa.

Tarawangsa alat musik.jpg

 

Review: The Hating Game by Sally Thorne

Because I read this book online so I will write an online review on this blog
Book title : The Hating Game
Author : Sally Thorne
Publication: August 9th 2016 | William Morrow Paperbacks |

In The Hating Game by Sally Thorne, Like most working adults, Lucy Hutton spends much of her waking hours at her job, which she mostly loves. Working for a publishing house is a dream come true. Working in the same office as her nemesis Joshua Templeman? Not so much. Especially since they spend their days goading one another, playing silly games and generally trying to make life miserable for each other. At this point it’s difficult to remember who began the nonsense. Lucy is sure, though, that she will be the victor.

 

Then two things happen that drastically change Lucy’s relationship with Joshua. First, they find out they are both up for the same promotion so the stakes become much higher in their office war of wits. Second, Joshua kisses Lucy in the elevator. And that just completely throws her for a loop. She thought he hated her and that was the reason behind his moody, grumbly attitude at work. But maybe there’s more to it than meets the eye. Now Lucy is torn between going after the promotion so she can hold it over Joshua’s head, or seeing if there really is something romantic between them.

 

The Hating Game turned out to be quite a lovely adventure. It evolved from a tense, almost hateful relationship between co-workers to a fun, sexy romance that had one of the sweetest most swoon-worthy endings ever. Not bad for a debut novel, right?

 

I have to first say that this was an impressive offering from a first-time author. I really loved Sally Thorne’s storytelling ability and her overall writing style. It was modern, emotionally rich, age-appropriate for the characters, and just had me captivated from page one. And I’m totally serious when I said that we went on an adventure here. This was a narrative from Lucy’s witty POV, so we basically evolved with her as she worked through her emotions and grew tremendously as an individual.

Lucy was an awesome character, in my humble opinion. She was funny, impressively smart and she stood her ground with her nemesis Joshua. Now, I’ll be honest. I’m not always a fan of antagonistic relationships, whether they’re romantic in nature or not, although it worked exceedingly well in this case. Things started off shaky between Lucy and Joshua. He made their working environment uncomfortable and sometimes downright hostile. But I liked how everything progressed. And there was a reason for how Joshua behaved. A really good one…that I unfortunately can’t mention or it will spoil the last half of the book. (Sorry!!)

Suffice it to say that things do move on from being all-out war between Joshua and Lucy to sizzling hot, thanks to one steamy kiss in an elevator. * dreamy sigh* So don’t write Joshua off as being a jerk until you read this through to the very end. It made all the difference in the world and had me (and Lucy) singing his praises. Really. Thankfully he winds up being a multi-layered character who had a lot more going on–and going for him–than it at first seemed.

The Hating Game is one of the most entertaining and clever workplace romance novels I’ve read in a long, long time. I think readers are bound to laugh at Lucy and Joshua’s crazy antics and fall in love right along with them. Highly recommended.
 

Resensi Buku -TJOKROAMINOTO-

Judul buku: Tjokroaminoto-Guru Para Pendiri Bangsa- (seri buku TEMPO:Bapak Bangsa)

Penulis: Tim penulis

Penerbit: KPG (Kepustakaan Popuer Gramedia) bekerja sama dengan Majalah  TEMPO

Tahun terbit: Tempo, 21 Agustus 2011

Sinopsis Buku:

Buku ini adalah buku wajib yang aku baca di sekolah. Buku ini adalah buku seri-an Tempo yang banyak edisinya, selain buku Tempo yang menceritakan kisah Tjokroaminoto ada juga para pejuang Indonesia lainnya, seperti Soekarnoe.Hatta, Moh.Hatta, Moh.Yamin, Kartini, dan masih banyak lagi.

Buku ini menceritakan ”kisah hidup” Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa. Kisah Tjokroaminoto adalah salah satu dari sembilan cerita tentang para bapak bangsa: Sukarno,Hamengku Buwono IX, Agus Salim, dan Douwes Dekker. Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, serial buku ini mereportase ulang kehidupan para republik. Mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan hingga kisah cinta dan kamar tidur mereka.

Di tangan Tjokro, Sarekat Islam berubah dari organisasi saudagar batik pribumi menjadi gerakan politik yang besar dan kuat. Pidato dan tulissannya menginspirasi puluhan ribu orang, termasuk Sukarno Hatta. Ia juga menumbuhkan semangat kebangsaan. Para rakyat jelata menganggap Tjokro “Ratu Adil”, sementara Pemerintah Belanda menjulukinya “Raja Tanpa Mahkota”.

Kelebihan Buku:

Menurutku kelebihan buku ini bisa menambah banyak kosa kata baru yang tidak kita mengerti.

Kekurangan Buku:

Sebenarnya buku ini bagus untuk dibaca oleh para remaja, tapi pagi para remaja yang tidak begitu suka baca akan berat untuk membaca buku ini, karena ada beberapa kosakata yang “baku” yang kurang dimengerti.

Refleksi Ekspedisi Kampung Adat

Jadi si kelas 9 ini, nama kelasku/kelompokku adalah Pirus. Di kelas 9 ini kami pergi ke Kampung Adat untuk ekspedisi. Nama kampung adat yang akan kita kunjungi adalah Kampung Adat Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Di blog kali ini aku akan merefleksi tentang Kampung Adat ini, Cireundeu berasal dari nama “pohon reundeu”, karena sebelumnya di kampung ini banyak sekali populasi pohon reundeu. (untuk yang ingin lebih tau tentang Kampung ini)

Menurutku, pengalaman yang unik atau menyenangkan saat aku dan teman-teman Pirus ekspedisi disana adalah saat hiking. Umumnya orang-orang yang hiking akan memakai perlekapan yang lengkap agar aman. Tapi kami tidak, kami ditantang untuk hiking tanpa membawa tas atau perlengkapan lainnya, juga tidak memakai alas kaki. Katanya karena kita tinggal di bumi bersama alam yang Tuhan ciptakan kita harus menghormatinya dengan cara bersatu dengan alam, jadi kami akan mendaki sampai puncak gunung/bukit tersebut tanpa alas kaki.

Karena aku dan teman-teman Pirus sudah terbiasa ‘nyeker'(berjalan-jalan di sekolah tanpa alas kaki) kami tidak terlalu kaget dengan tantangan tersebut. Jujur aku khawatir takutnya tanpa alas kaki ada yang terluka, tapi aku bertekad untuk mencoba dan melawan rasa takut tersebut dengan berdoa bersama dahuku sebelum kegiatan hiking dimulai. Setelah doa lalu kami pun bergegas berangkat hiking yang dipimpin oleh Kang Tri (narasumber dari Kampung Cireundeu)

 

Setelah kami melihat proses pembuatan singkong, kegiatan ekspedisi di kampung adat tersebut pun selesai. Sebelum kami pulang kami disarankan membeli oleh-oleh khas Kampung Cireundeu tersebut. Perasaanku selama ekspedisi disana aku sangat semangat dan penasaran tentang semua yang ada di Kampung Cireundeu. Semua rasa penasaran itu terjawab saat kegiatan dimulai, juga kami disambut dengan ramah oleh para warga Kampung Cireundeu, orang-orang ramah dan baik.

 

Nilai dan hikmah pembelajaran yang bisa dipelajari selama ekspedisi adalah kita tinggal di Indonesia tempat dimana suku, budaya, agama, dan lainnya yang berbeda bersatu. Adanya budaya yang kental di beberapa daerah dan alam yang indah yang harus kita jaga, jangan karena jaman ini yang semakin moderen kita jadi berubah ingin merubah budaya tersebut menjadi moderen juga tapi kita harus tetap menjaga budaya yang kental ini sampai kedepannya 🙂

 

Proyek diorama hutan

Jadi di blog kali ini aku mau share tentang tahapan proses pembuatan “maket diorama hutan” dan mungkin akan share bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat maket ini.

Jadi untuk membuat proyek ini memerlukan waktu 1 setengah bulan.
Di hari pertama aku tidak memulai langsung membuat maket karena ini proyek sekolah jadi aku harus mengajukan akan membuat maket diorama hutan dan keperluan yang harus dipersiapkan dari sekolah, seperti alat dan bahan-bahan yang diperlukan. Setelah selesai membuat proposal dan mengajukannya kepada kakak, kami membuat rancangan 3D maket dioramanya, rancangan denahnya, dan rancangan inovasi agar membuat maket diorama hutan tersebut lebih keliatan asli, kami membuat semua rancangan tersebut agar kami sudah terbayang akan bagaimana maket tersebut secara tata letak posisi air terjunnya, pepohonanya dibutuhkan berapa, juga apa saja yang akan ditambahkan disitu.

Setelah proposal dan semua rancangan selesai, kami bisa memulai membuat maket diorama ini. Pertama-tama kami pastinya akan membuat kontur hutan, dengan bubur koran. Kami banyak membutuhkan bubur koran untuk konturnya. Dan besar maket kami itu 45 kali 45 cm. Setelah selesai membuat bubur koran, kami langsung membuat miniatur kecilnya seperti tenda dan perapian dekat tenda. Lalu bubur kertas yang selesai dibuat didiamkan 1/2 malam kalau mau halus banget bubur kerats didiamkan sekitar 3 hari atau lebih.

Setelah didiamkan beberapa hari, bubur kertas tersebut diperas sampai sedikit kering. Setelah itu bubut kertas diberi lem fox lalu diaduk, setelah selesai diaduk bubur kertas tersebut siap untuk dibentuk untuk kontur tanah hutan, agar lebih berkontur setelah bubur koran yg sudah diletakan dan diratakan tersebut diberi beberapa ganjelan agar terbentur konturnya tapi ganjelan tersebut jangan lupa ditutupi bubur koran lagi.

Setelah kontur selesai jangan lupa kosongkan bagian tengah untuk tempat sungai.
(foto sungai)

Setelah kontur selesai, mulailah membuat tebing air terjun
(foto tebing air terjun)
Untuk membuat tebing air terjun ini hanya membutuhkan gumpalan korang yang ditata seperti tebih yang tingginya 25 cm. Setelah ditata sambil diselotio kertas lalu dibelakangnya diganjel oleh duplek agar gumpalan koran ini tidak jatuh/rubuh, setelah itu agar tekstur tebingnya keliahatan asli, makan tebuh tersebut harus mengeras agar seperti tebing pada umumnya. Agar gumpalan koran tersebut keras maka gumpalan tersebut diberi gimsum agar mengeras. Setelah diberi gimsum gumpalan koran tersebut lebih berbentuk seperti tebing.(Tips: jangan menaruh gimsum dibawah sinar matahari, karena gampang keringdan cepat mengeras)

Setelah itu, karena sungai sudah terbentuk lalu langsung kami berwain warna agar sungai terlihat seperti asli, untuk warna sungai aku memakai pensil warna, dengan percampuran warna gradasi biru muda, biru tua, dan hijau toska. Setelah diwarna langsung saja diberi lem tembak diatasnya dengan gelombang-gelombang arus sungai agar terlihat asli. Setelah itu beri diatasnya tissue tapi hanya di tap-tap diatasnya agar menambah keaslian sungai.

Setelah sungai selesai, kami langsung mengecat konturnya dengan warna coklat kehijau”an untuk warna dasar tanah. Setelah itu diberi serbuk kayu yg sudah diwarnai warna hijau rumput agar ada tekstur rumput seperti asli.

Kontur dasar selesai selanjutnya mewarnai tebing air terjunnya dengan warna coklat tua dan muda(gradasi) sambil ditambahkan lumut asli agar terlihat seperti asli. Setelah itu karena warna kontur rumput terlalu gelap jadi kontur tersebut dicat lagi dengan warna hijau lumur, hijau tua, dan hijau muda di campur agar ada warna gradasi. Setelah beres mulailah membuat air terjunnya dengan solatip lalu diatsnya diberi gelombang-gelombang air terjun, setelah itu tunggu kering, lalu jadilah air terjun yang siap ditempel diatas tebing air terjun.

Lalu tebing yg diganjel oleh duplek dibelakangnya dibuka lalu ditambahkan gimsum lagi agar terbentuk kontur belakangnya, setelah itu lalu dicat warna yang sama dengan depan bukit ditambahlan tempelan lumut agar terlihat seperti asli. Setelah bukit selesai, lalu bisa ditempel air terjun yang sudah dibuat tadi. Setelah itu lalu tunggu sampai kering.

Lalu mulailah menempel miniatur kecil seperti tenda dan perapiannya. Rancangan inovasinya agar maket diorama hutannya terlihat hidup, perapiannya diberi duoa agar ada asap yg keluar seperti api yang habis dimatikan. Setelah selesai mulailah membuat pohon Pinus, kami memilih pohon Pinus karena pohon tersebut adalah salah satu kebanyakan dari hutan tropis Indonesia. Bahan yang diperlukan yaitu, kawat untuk batangnya, cat berwarna coklat muda dan tua(gradasi), dan juga serbuk serutan pensil yg sudah diwarnai dengan cat seperti warna daun pohon. Pertama ambil kawat lalu lipat dengan 10 cm lipat sampai 5 kali lalu bentuk akarnya, setelah itu kawat tersebut dicat dengan warna batang pohon.
Setelah itu, untuk membuat daun pohonnya ambil koran robek lalu remas dan belit ke kawat tersebut lalu di selotip(jangan terlalu tebal karena ini membentuk pohon Pinus) setelah itu koran yang sudah diselotip lalu dioleskan lem fox lalu di masukkan ke dalam serbuk serutan pensil lalu ditekan-tekan sampai menempel, teruskan sampai membuat 40 pohon. Lalu tunggu sampai semua kering. Kalau pohon ingin lebih awet, pohon yang sudah kering disemprot pilox berwarna bening.

Setelah pembuatan pohon selesai, lalu pohon siap ditempel diatas kontur rumput. Tipsnya agar pohon tidak terlalu dilihat akar pohonnya. Pohon ditempel dengan gaya seperti menanam pohon kadi pohon tersebut ditutupi bubur koran lagi diatas akarnya seperti menanam pohon. Lalu dibuat lagi kontur tambahan diatasnya setelah itu kontur tersebut dicat lagi dengan warna yang sama sebelumnya. Setelah itu diberi taburan serbuk serutan agar ada seperti rerumputan.

Setelah itu beres dan tinggal tambahkan dupa di perapian dekat tenda tersebut.

Perjalanan Besar

Perjalanan besar pun tiba, hari Minggu, Maret 2018. Sebelum perjalanan yang berlansung selama 5 hari, aku mempersiapkan semua kebutuhanku untuk perjalanan besar nanti, seperti pakaian, obat-obatan pribadi, alat mandi, buku jurnal, alat tulis, payung dan jas hujan, juga membawa sepatu yang nyaman dan seragam Smipa yang nanti akan dipakai di hari terakhir nanti. Katanya sih seragam itu akan dipakai saat ke tempat dan pertemuan di Semarang yang pasti tempat bersejarah. Sesudah semuanya lengkap di dalam tas, aku pun memeriksa kembali tas yang akan dibawa dengan orangtuaku agar aku tau ada yang kurang atau ada yang lebih, apakah ta situ terlalu berat atau sudah cukup. Setelah seuanya beres, aku pun tinggal menunggu waktunya berkumpul dengan teman-teman untuk bersiap pergi dengan Bus di Pahala Kencana.

Kita sudah janjian pukul 05.30 sudah berkumpul semua di Phala Kencana agar tidak tertinggal Bus, aku pun berangkat dengan keluargaku lengkap. Sesampainya disana aku membawa tasku dan berkumpul bersama tean-teman, keluargaku ikut masuk menemani aku sebelum pergi perjalanan besar. Setelah teman-teman Dolangan lengkap semua kami pun berdoa dulu sebelum berangkat dipimpin oleh orangtua murid, sesudah berdoa aku pun berpamitan dengan keluargaku. Ada beberapa keluarga yang mengantarkan anaknya sampai bus berangkat dan ada juga beberapa yang pulang duluan. Sebelum naik bus, aku sudah mengeceknya dengan teman-teman dan keluargaku. Lalu kami pun naik bus dan berangkat.

Di bus cukup nyaman namun hanya sempit di bagian kaki karena ada tasku dan aku tidak bisa tidur karena kursinya kurang nyaman , jadinya aku minum antimo agar bisa tidur sampai Salatiga. Lalu bus pun berhenti di tempat makan pada pukul 20.30, kami bisa untuk makan malam dan untuk makan malam kita tidak perlu bayar lagi jadi makan malamnya tinggal di scan dengan barcode dari tiket bus. Disana kami makan nasi dengan mie goreng, kerupuk, soto, dan telur balado juga ditambah minuman teh tawar hangat. Setelah semuanya selesai makan dan sudah kenyang kami pun kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan. Suasana di bus cukup berisik karena ada beberapa bapak-bapak yang mendekur saat tidur sangat lelap. Di bus pun aku banyak melihat keluar jendela dan tertidur pulas.

Pukul 04.00 subuh, kami sudah sampai di Salatiga. Aku baru pertama kali perjalanan ke Salatiga, sebelumnya belum pernah. Suasana disana sepi karena masih pagi sekali, ada beberapa orang yag keluar untuk sholat subuh. Setelah itu kami pun mencari penginapan dengan berjalan, penginapannya tidak jauh dari tempat kami turun dari bus tadi, kami pun berjalan dan akhrnya sampai. Lalu kakak mengetuk gerbang pintu rumah tersebut dan keluarlah seorang ibu yang sudah tua dengan menyambut kami yang sudah samapi di penginapan tersebut, kami pun bersalaman dengan ibu dan bapaknya. Aku sendiri merasa bingung, karena penginapan tersebut seperti rumah yang biasa dipakai untuk tempat tinggal dan bukan penginapan, mungkin penginapannya ada di dalam rumahnya atau juga di dalam seperti kost-kost an. Kami pun masuk melewati gerbang yang ada loncengnya diatas gerbang tersebut dan kami pun masuk ke dalam. Disana kami diberi kamar, ada yang di bawah untuk 6 laki-laki (K’Agni, K’ Diki, Timmy, Denzel, Linus, Bimo) dan ada yang di dalam rumah untuk perempuan. Kami menyimpan sepatu kami di rak sepatu lalu masuk ke rumah dan dibagi kamar lagi. di dalam rumah itu ada 3 tangga, kalau yang di kamar bawah ada 3 perempuan (Alika, Hana, Tasha) dan di lantai 2 ada 4 perempuan (Aku-Caca-, Karmel, Naia dan K’Ollin). Setelah itu kami pun diberi tau kakak untuk bersiap-siap untuk renungan dan yang muslim sholat subuh. Lalu kami pun bersama-sama pergi ke masjid , karena arah tujuan kita searah jadinya pergi bersama-sama. Setelah selesai renungan kami pun kembali ke penginapan untuk mandi serta beres-beres keperluan seperti alat mandi, lotion, selimut dan lainnya, samapi pukul 06.30 kami pun berkumpul kembali di basecamp bawah untuk diberi tugas oleh kakak. Di basecamp kami berdoa sebelum memulai kegiatan lalu dibagikan uang Rp. 631.500,00 untuk keperluan makan pagi, siang, malam, ataupun cemilan, transportasi, atau uang emergency. Kelompokku berisi 3 orang ada Bimo, Tasha dan aku, kelompokku bernama Nila. Lalu ada Kelompok Pala yang berisi 3 orang, ada Alika, Linus dan Naia. Lalu ada Kelompok Kopi yang berisi 4 orang, yaitu ada Karmel, Hana, Timmy dan Denzel. Lalu kami diberi surat tugas, peta Salatiga, kertas tambahan, dan lainnya. Setelah itu kami melihat peta Salatiga dan menentukan checkpoint-checkpoint yang akan dilalui hari ini, dan aku baru sadar kalau nama penginapan ini adalah Isti Homestay. Setelah melihat peta dan menentukan jalur dan tempat yang akan dilalui kita lapor ke kakak. Lalu setelah itu kita pergi keluar untuk mencari sarapan dahulu